Tuesday, June 2, 2015

Makalah Tentang Permasalahan Sosial di Indonesia

By With No comments:

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Sejak manusia mulai hidup bermasyarakat, maka sejak saat itu sebuah gejala yang disebut masalah sosial berkutat didalamnya. Sebagaimana diketahui, dalam realitas sosial memang tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang ideal. Dalam pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh prilaku kehidupan sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan komponen sistem sosial mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan yang terjadi. Dengan kata lain das sein selalu tidak sesuai das sollen.

Pada jalur yang searah, sejak tumbuhnya ilmu pengetahuan sosial yang mempunyai obyek studi kehidupan masyarakat, maka sejak itu pula studi masalah sosial mulai dilakukan. Dari masa ke masa para sosiolog mengumpulkan dan mengkomparasikan hasil studi melalui beragam perspektif dan fokus perhatian yang berbeda-beda, hingga pada akhirnya semakin memperlebar jalan untuk memperoleh pandangan yang komprehensif serta wawasan yang luas dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial. Buku ini hadir dengan fokus studi masalah sosial yang sekaligus memuat referensi dan rekomendasi bagi tindakan untuk melakukan penanganan masalah. Di negara-negara berkembang, tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan dalam rangka penanganan masalah sosial menjadi perhatian yang sangat serius demi kelangsungan serta kemajuan bangsanya menuju cita-cita kemakmuran dan kesejahteraan. Terkait hal itu, pembahasan mengenai berbagai perspektif sosial, identifikasi melalui serangkaian unit analisis serta pemecahan masalah yang berbasis negara dan masyarakat menjadi tema-tema yang diulas secara teoritis dalam makalah ini.

Masalah sosial menemui pengertiaannya sebagai sebuah kondisi yang tidak diharapkan dan dianggap dapat merugikan kehidupan sosial serta bertentangan dengan standar sosial yang telah disepakati. Keberadaan masalah sosial ditengah kehidupan masyarakat dapat diketahui secara cermat melalui beberapa proses dan tahapan analitis, yang salah satunya berupa tahapan diagnosis. Dalam mendiagnosis masalah sosial diperlukan sebuah pendekatan sebagai perangkat untuk membaca aspek masalah secara konseptual. Eitzen membedakan adanya dua pendekatan yaitu person blame approach dan system blame approach. Person blame approach merupakan suatu pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu.

Person blame approach merupakan suatu pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu. Diagnosis masalah menempatkan individu sebagai unit analisanya. Sumber masalah sosial dilihat dari faktor-faktor yang melekat pada individu yang menyandang masalah. Melalui diagnosis tersebut lantas bisa ditemukan faktor penyebabnya yang mungkin berasal dari kondisi fisik, psikis maupun proses sosialisasinya. Sedang pendekatan kedua system blame approach merupakan unit analisis untuk memahami sumber masalah pada level sistem. Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa sistem dan struktur sosial lebih dominan dalam kehidupan bermasyarakat. Individu sebagai warga masyarakat tunduk dan dikontrol oleh sistem. Selaras dengan itu, masalah sosial terjadi oleh karena sistem yang berlaku didalamnya kurang mampu dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk penyesuaian antar komponen dan unsur dalam sistem itu sendiri. Dari kedua pendekatan tersebut dapat diketahui, bahwa sumber masalah dapat ditelusuri dari ”kesalahan" individu dan "kesalahan" sistem.

Mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut akan sangat berguna dalam rangka melacak akar masalah untuk kemudian dicarikan pemecahannya. Untuk mendiagnosis masalah pengangguran misalnya, secara lebih komprehensif tidak cukup dilihat dari faktor yang melekat pada diri penganggur saja seperti kurang inovatif atau malas mencari peluang, akan tetapi juga perlu dilihat sumbernya masalahnya dari level sistem baik sistem pendidikan, sistem produksi dan sistem perokonomian atau bahkan sistem sosial politik pada tingkat yang lebih luas. Masyarakat Dan Negara Parillo menyatakan, kenyataan paling mendasar dalam kehidupan sosial adalah bahwa masyarakat terbentuk dalam suatu bangunan struktur. Melalui bangunan struktural tertentu maka dimungkinkan beberapa individu mempunyai kekuasaan, kesempatan dan peluang yang lebih baik dari individu yang lain.

Dari hal tersebut dapat dimengerti apabila kalangan tertentu dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kondisi sosial yang ada sekaligus memungkinkan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan, sementara dipihak lain masih banyak yang kekurangan.Masalah sosial sebagai kondisi yang dapat menghambat perwujudan kesejahteraan sosial pada gilirannya selalu mendorong adanya tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dalam konteks tersebut, upaya pemecahan sosial dapat dibedakan antara upaya pemecahan berbasis negara dan berbasis masyarakat. Negara merupakan pihak yang sepatutnya responsif terhadap keberadaan masalah sosial. Perwujudan kesejahteraan setiap warganya merupakan tanggung jawab sekaligus peran vital bagi keberlangsungan negara.

Upaya pemecahan sosial sebagai muara penanganan sosial juga dapat berupa suatu tindakan bersama oleh masyarakat untuk mewujudkan suatu perubahan yang sesuai yang diharapkan. Dalam teorinya Kotler mengatakan, bahwa manusia dapat memperbaiki kondisi kehidupan sosialnya dengan jalan mengorganisir tindakan kolektif. Tindakan kolektif dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih sejahtera. Kebermaknaan suatu studi termasuk studi masalah sosial disamping ditentukan oleh wawasan teoritik dalam menjelaskan gejala dan alur penalaran dari berbagai proposisi yang dihasilkan, juga sangat ditentukan oleh bagaimana studi itu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Setidaknya seperti itulah muatan optimisme yang di kehendaki penulis makalah ini.


1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah masalah sosial ini adalah :

1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan masalah sosial, batasan dan pengertiannya.

2. Menjelaskan apa itu klasifikasi maslah sosial dan sebab-sebabnya.

3. Menjelaskan ukuran-ukuran sosiologi terhadap masalah sosial.

4. Menjelaskan beberapa masalah sosial penting.



1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mahasiswa mengerti dan memahami pengertian masalah sosial, batasan, klasifikasi masalah sosial dan sebab-sebabnya, dapat mengetahui ukuran-ukuran sosiologi terhadap masalah-masalah sosial serta mampu memberikan contoh masalah sosial penting.


BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Permasalahan sosial yang banyak terjadi di lingkungan sekitar adalah masalah pengangguran. Pengangguran sekarang terjadi dimana-mana. Hal ini disebabkan banyaknya para pencari kerja. Tetapi, sedikitnya lapangan kerja yang tersedia. Itu hanya salah satu sebab terjadinya pengangguran. Contoh sebab lain adalah Sumber Daya Manusia yang kurang berkualitas. Para generasi muda sekarang lebih suka bemalas-malasan dan bermain dari pada belajar demi menggapai masa depan. Sehingga di saat mereka dewasa karena tingkat pendidikan mereka sangat rendah sehingga mereka kesulitan mencari pekerjaan dan akan menjadi pengangguran Sehingga terjadi kemiskinan dan masalah social lainnya. Kita harus berusaha mencapai hasil yang terbaik dalam hidup kita sehingga kita akan menjadi manusia yang berkualitas dan dapat membantu mengurangi masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita.

Jadi permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, tindakan kriminal, pengangguran, dan lain-lain. Masih banyak faktor yang menyebabkan munculnya masalah sosial di masyarakat kita. Masalah ini tidak hanya terjadi di Negara kita saja tetapi masalah ini terjadi sama rata di seluruh pelosok dunia.


2. Saran

1. Kembali Kepada Jalan Allah dengan tuntunan Alquran dan Sunnah.

2. Meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

3. Kita semua harus bekerja sama dalam mengatasi masalah sosial yang sudah menjadi sorotan bagi kita. Dengan bersama, masalah akan lebih cepat selesai. Apalagi dengan disertai prakek-praktek yang nyata, akan semakin banyak orang sadar akan kehidupan sosial ini.

4. Melakukan perubahan dan perbaikan dimulai dari diri sendiri dan lingkungan yang kondusif, setelah itu mengajak orang terdekat kita.



Untuk versi lengkapnya, silahkan unduh disini.
Read More

Wednesday, April 22, 2015

Contoh 2 Jenis Tulisan dengan judul yang sama

By With No comments:
DESKRIPSI
Judul : Laboratorium Sistem Informasi

            Pagi itu, aku menjalani aktifitas ku seperti biasa, berangkat ke kampus untuk menjalani tugas sebagai asisten Laboratorium Sistem Informasi, salah satu laboratorium yang ada di Universitas Gunadarma.
            Laboratorium yang di wajibkan bagi seluruh jurusan di Universitas Gunadarma pada tingkat satu, dan hingga selesai bagi Jurusan Sistem Informasi dan Manajemen Informatika. Laboratorium Sistem Informasi ini terdapat pada dua kampus, yakni J1 dan J3.
            Di gedung J1, terdapat 2 Laboratorium Sistem Informasi, yakni Lab 1522 dan Lab 1525, Laboratorium di J1 di khususkan untuk tingkat 1 dengan materi-materi dasar seperti pengenalan program dan sebagainya, Lab di j1 ini juga memiliki 6 Shift Praktek, jadi setengah 8 pagi sampai dengan setengah 8 malam, setiap shift terdiri dari 2 jam.
            Dalam pelaksanaan praktikum di Laboratorium Sistem Informasi biasanya di bantu oleh 5 sampai 6 orang Asisten Laboratorium Sistem Informasi, 1 orang sebagai Ketua Asisten, 1 orang sebagai Tutor, dan selebihnya menjadi Asisten pembantu praktikan.
            Dalam Lab 1522, terdapat 62 perangkat komputer yang terdiri dari Monitor, Cpu, Keyboard, dan Mouse. Termasuk 1 Perangkat Server yang digunakan untuk kepentingan praktikum.
            Dan dalam Lab 1525 terdapat 60 perangkat komputer yang juga terdiri dari Monitor, Cpu, Keyboard, dan Mouse dan 1 Perangkat yang digunakan sebagai Server.
            Untuk gedung J3 terdapat 4 Lab, yakni J3A, J3B, J3C, J4C. dan terbagi menjadi 2 Kategori, yakni Lab besar dan Lab kecil. Lab besar terdiri dari J3A dan J3B, sementara Lab kecil J3C dan J3D, dibagi menjadi Lab Besar dan Lab Kecil karena ukuran lab nya, lab besar dapat menampung hingga 62 Praktikan, sementara Lab kecil hanya dapat menampung 30 Praktikan.



NARASI
Judul : Laboratorium Sistem Informasi

            Pagi itu, Senin hari di awal april, entah kenapa pagi ini sinar matahari terasa hangat, mengantar ku menjalani rutinitas ku sebagai mahasiswa. Pagi itu, aku bergegas memacu sepeda motor ku, aku harus mengikuti praktikum di Laboratorium Sistem Informasi.
            Suasana Lab pagi itu masih sangat sunyi, belum ada siapapun yang datang, memang sudah biasa jika 5 menit sebelum masuk barulah semua mahasiswa berkumpul di depan ruangan. Aku hanya duduk terdiam menunggu hingga teman-teman ku berkumpul.
            Waktu menunjukkan 7.25 pagi itu, satu per-satu teman ku mulai berdatangan, bersiap untuk mengikuti kegiatan praktikum di Laboratorium Sistem Informasi, tak lama Asisten Laboratorium membuka pintu laboratorium pertanda praktikum dimulai, selam praktikum gadget dilarang digunakan dan wajib mentaati peraturan lainnya, 2 jam kegiatan praktikum berlangsung, tiap minggu membahas materi yang berbeda, dan kami harus mengerjakan Laporan Pendahuluan dan Laporan Akhir, Laporan Pendahuluan dikerjakan menggunakan Mesin Tik, dan Laporan Akhir di print out.
            Selama Praktikum kegiatan sama seperti belajar di kelas, hanya saja setiap studi kasus akan langsung di kerjakan melalui perangkat komputer yang terdapat di Laboratorium Sistem Informasi, dan setiap praktikan akan dibimbing oleh Asisten Laboratorium hingga studi kasusnya selesai di kerjakan.

            Praktikum di Laboratorium Sistem Informasi ini juga sangat menarik karena ada challenge di setiap studi kasus, menjadikan praktikum tidak membosankan karena kita akan beradu cepat serta tepat dalam mengerjakan studi kasus demi mendapatkan nilai tambah dalam praktikum, dan begitulah setiap minggu kegiatan praktikum di Laboratorium Sistem Informasi berlangsung.
Read More

Monday, March 23, 2015

Fakta dan kaitannya dengan Penalaran Ilmiah

By With No comments:
Penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta dan bukti-bukti untuk menarik kesimpulan. Sehingga dapat diketahui bahwa unsur dasar penalaran adalah fakta. Suatu pemikiran bisa disebut ilmiah apabila terdapat fakta di dalamnya.

Fakta sebagai unsur dasar penalaran memiliki jumlah yang tidak terbatas. Karena itu, untuk memudahkan pemahaman perlu dibuat klasifikasi fakta. Dalam membuat klasifikasi fakta diperlukan pengetahuan mengenai fakta yang berhubungan karena klasifikasi berarti mengelompokkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan yang logis berdasarkan suatu sistem.
Selain fakta, proposisi juga merupakan unsur yang penting dalam penalaran. Proposisi adalah ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar-tidaknya. Dengan kata lain proposisi adalah pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau ditolak karena kesalahannya. Contohnya sebagai berikut:
(1) Bola itu bentuknya bulat.
(2) Ibu kota Jawa Tengah adalah Bandung

Kalimat pertama merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan, kalimat kedua merupakan pernyataan yang dapat ditolak karena kesalahannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.

Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.

Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

1). Klasifikasi
Membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukkan atau menempatkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Suatu klasifikasi akan berhenti, tidak dapat diteruskan lagi jika sudah sampai kepada individu yang tidak dapat merupakan spesies atau dengan kata lain jenis individu tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan ke dalam suatu spesies. Contohnya, "Dani adalah manusia", tetapi tidak "Manusia adalah Dani" karena Dani adalah individu dan bersifat unik.
Perlu diingat bahwa klasifikasi atau penggolongan (pengelompokkan) berbeda dengan pembagian. Pembagian lebih bersifat kuantitatif, tanpa suatu kriteria atau ciri penentu. Tetapi klasifikasi didasarkan terhadap ciri-ciri atau kriteria yang ada dari fakta-fakta yang diteliti.

2). Jenis Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Klasifikasi sederhana, suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif. Klasifikasi seperti itu disebut juga klasifikasi dikotomis (dichotomous classification dichotomy).
Klasifikasi kompleks, suatu kelas mencakup lebih dari dua kelas bawahan. Dalam klasifikasi ini tidak boleh ada ciri negatif; artinya, suatu kelas tidak dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya suatu ciri.

3). Persyaratan Klasifikasi
Klasifikasi harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa persyaratan:
Prinsipnya harus jelas. Prinsip ini merupakan dasar atau patokan untuk membuat klasifikasi, berupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua fakta atau benda (gejala) yang diklasifikasikan.
Klasifikasi harus logic dan ajek (konsisten). Artinya, prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya.
Klasifikasi harus bersikap lengkap, menyeluruh. Artinya, dasar pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok tanpa kecuali.


Selain itu dalam aspek fakta agar dapat membuat kesimpulan yang sah tentang sifat golongan tertentu yang berdasarkan satu atau beberapa yang diamati, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai klasifikasi – yang sudah dijelaskan sebelumnya –, generalisasi dan spesifikasi, analogi, dan hubungan sebab-akibat.

1). Generalisasi dan Spesifikasi, Dari sejumlah fakta atau gejala yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu dibuktikan dengan fakta yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.
Ungkapan yang biasa digunakan dalam generalisasi adalah: biasanya, pada umumnya, sebagian besar, semua, setiap, tidak pernah, dan sebagainya. Dan ungkapan yang digunakan dalam penunjang generalisasi adalah: misalnya, sebagai contoh, untuk menjelaskan hal itu, sebagai bukti, dan sebagainya.
Fakta-fakta penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Suatu paragraf dalam tulisan yang mencamtumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis. Dan generalisasi mungkin mengemukakan fakta (disebut generalisasi faktual) atau pendapat (opini).

2). Analogi, persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain atau membandingkan sesuatu dengan lainnya berdasarkan atas persamaan yang terdapat di antara keduanya.
Analogi terdiri dari dua macam, pertama analogi penjelas (deklaratif) yaitu perbandingan untuk menjelaskan sesuatu yang baru berdasarkan persamaannya dengan sesuatu yang telah dikenal, tetapi hasilnya tidak memberikan kesimpulan atau pengetahuan yang baru, kedua analogi induktif yaitu suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan (referensi) tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan. Jadi, dalam analogi induktif yang perlu diperhatikan adalah persamaan yang dipakai merupakan ciri-ciri esensial penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.

3). Hubungan Sebab Akibat, hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.
Penalaran sebab-akibat dimulai dengan pengamatan terhadap suatu sebab yang diketahui.
Penalaran akibat-sebab dimulai dari suatu akibat yang diketahui.
Penalaran akibat-akibat berpangkal dari suatu akibat dan berdasarkan akibat tersebut dan langsung dipikirkan akibat lain tanpa memikirkan sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.


Salah Nalar
Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran disebut sebagai salah nalar. Ada dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.

Kesalahan Informal
Kesalahan informal biasanya dikelompokkan sebagai kesalahan relevansi. Kesalahan ini terjadi apabila premis-premis tidak mempunyai hubungan logis dengan kesimpulan. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini adalah:

Argumentum ad Hominem, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada diri orang". Artinya, kesalahan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis.

Argumentum ad Baculum, kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak 
karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.

Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis, kesalahan yang terjadi apabila seseorang menerima pendapat atau keputusan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatukan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.

Argumentum ad Populum, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada rakyat". Artinya, argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan; yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.

Argumentum ad Misericordiam, argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan.
Kesalahan Non-Causa Pro-Causa, kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap.

Kesalahan Aksidensi, kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok.

Petitio Principii, kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Kadang-kadang petitio principii ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D dan D disebabkan A.

Kesalahan Komposisi dan Divisi, kesalahan komposisi terjadi jika menerapkan predikat individu kepada kelompoknya sementara kesalahan divisi terjadi jika predikat yang benar bagi kelompok dikenakan kepada individu anggotanya.

Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks, pertanyaan yang dimaksud ini bukan dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, namun yang dapat menimbulkan banyak jawaban.

Non Secuitur (Kesalahan Konsekuen), kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional 
terjadi pertukaran anteseden dan konsekuen.

Ignoratio Elenchi, kesalahan ini sama atau sejenis dengan argumentum ad Hominem, ad 

Verucundiam, ad Baculum, dan ad Populum yaitu tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya.

Kesalahan Formal
Kesalahan ini berhubungan erat dengan materi dan proses penarikan kesimpulan baik deduktif maupun induktif.
1). Kesalahan Induktif
Kesalahan induktif terjadi sehubungan dengan proses induktif. Kesalahan ini terjadi karena:
Generalisasi yang terlalu luas.

Hubungan sebab akibat yang tidak memadai.
Kesalahan analogi. Kesalahan ini terjadi bila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan ciri esensial kesimpulan yang ditarik.

2). Kesalahan Deduktif
Dalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi adalah kesalahan premis mayor yang tidak dibatasi.

Kesalahan term keempat. Dalam hal ini term tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari term mayor pada premis mayor atau memang tidak ada hubungan antara kedua pernyataan.
Kesimpulan terlalu luas atau kesimpulan lebih luas dari pada premisnya.
Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif.



PROSES PENALARAN

Proses penalaran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu proses penalaran induktif dan proses penalaran deduktif. Penalaran ilmiah merupakan perpaduan kedua proses itu.

EVIDENSI
Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.

Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana kenyataan hadir” atau perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan “Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo”, apa komentar kita ? Tentu saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.

Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai “kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.

Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan.

Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.



Cara menguji data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas

Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi

Cara menguji autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise

4. Koherensi dengan kemajuan


Muhamad Sidik @Universitas Gunadarma - 2015

source : zuwaily.blogspot.com, teguhberindra.blogspot.com
Read More

Friday, January 9, 2015

Inspirasi -> (cerita inspirasi)

By With No comments:

inspirated by :



Agak sulit menemukan pengertian dari kata inspirasi, bahkan dari KBBI maupun wikipedia, pengertian kata inspirasi agak sedikit ambigu, namun secara garis besar inpirasi menurut saya disini adalah suatu hal yang mendorong diri kita untuk mewujudkan sesuatu yang sebelumnya kita rasa tidak mampu. dan segala sesuatu yang memberikan kita dorongan itulah yang disebut dengan inspirator, baik secara kisah, pengalaman, kata-kata, sikap, dan lain sebagainya.

Saya adalah mahasiswa tingkat 3 disebuah perguruan tinggi swasta, dan ketika membicarakan siapa tokoh insipratif saya sepertinya terlalu tinggi jika saya meng-inspirator kan tokoh-tokoh besar seperti Ir. Soekarno , Bill Gates sang trilyuner, Steve Jobs sang otak Apple, dan lain sebagainya. sekalipun kata-kata mereka luar biasa, membuat jutaan orang bersemangat dan menjadikan mereka tokoh inspiratornya, bukan berarti saya tidak menjadikan mereka tokoh insiratif, banyak kutipan mereka yang saya terapkan dalam kehidupan saya, tapi menurut saya ada tokoh inspiratif yang betul-betul ada di sekitar kita.

Sebuah kutipan meyakinkan saya bahwa tokoh inspiratif betul-betul ada di sekitar kita, "Ternyata betul bahwa tidak semua malaikat memiliki sayap, contohnya mereka yang bersedia melakukan hal-hal bodoh demi membuat mu tertawa". Yaa, kutipan tersebut yang membuat saya menjadikan sahabat-sahabat saya menjadi tokoh inspiratif bagi saya, sekalipun perkataan tokoh besar seperti "beri aku 1000 orang tua, akan kucabut semeru, dan berikan aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia", kata-kata tersebut mampu mendongkrak semangat ku, namun hanya dalam beberapa keadaan, lain hal dengan sahabat-sahabat ku, hampir setiap waktu mereka menjalani kesehariannya dengan ku, banyak hal, banyak masalah, banyak suka, dan banyak duka kami lewati bersama. mereka bukan kumpulan orang pintar yang ketika kami berkumpul harus selalu dengan hal ilmiah, mereka juga bukan anak gaul yang ketika berkumpul akan selalu membicarakan trend masa kini, sikap mereka, kisah mereka, dan ke-konyol-an mereka lah yang mampu membangun hidupku sampai detik ini. banyak hal yang bahkan membuat ku tertawa terbahak-bahak, melupakan keluh kesah dan masalah sejenak, me-refresh otak dari segala beban, dan memudarkan awan kelam yang memenuhi isi kepala.

Ketika orang lain bermimpi menjadi bussinessman layaknya Bill Gates dan Steve Jobs, atau menjadi tokoh dunia layaknya Soekarno, aku hanya berharap aku dan sahabat ku mampu meraih kesuksesan, sekalipun suatu saat langkah kami akan berbeda, tapi kisah dan setiap jalan cerita kami akan selalu ku ingat, sekonyol apapun mereka, se-gila apapun mereka, se-nggak waras apapun mereka, mereka tetap berpengaruh dalam hidup ku, mereka tetap berjasa ketika kelak kami menggapai kesuksesan kami, mereka tetap tokoh inspiratif yang tidak akan tergantikan.

Thanks to :
Indiawan Sagara, M.K.Y, Julius Cius Agung, Yusuf Ucup Setianto, Irfan Fathoni, Benny Mastah Dwi, Rifando Gendut Saputra, Abdurrahman bapak KNSP.
Read More

Sunday, November 9, 2014

Contoh Paragraf Narasi - Psikopat

By With No comments:
Kami adalah grup pecinta misteri, kami ber 6 memang memiliki hobi yang sama. Kami pertama kali berkumpul karena kejadian yang tidak di sengaja. Malam itu aku, irfan, dan dimas baru saja menyelesaikan kuliah ku di lantai 5 kampus kami, ketika sedang berbincang sambil membereskan barang-barang kami, tiba-tiba terdengan suara jeritan perempuan di lantai 6, dan ternyata kami bertiga memikirkan hal yang sama, jika ingin mengetahui kebenarannya, maka kami harus ke lantai 6, jadi kami memutuskan untuk pergi ke lantai 6 dan melihat keadaan disana.
Kami melihat setiap sudut di lantai 6, kami tidak menemukan siapa-siapa disini, hanya saja, beberapa waktu setelah kami sampai, tiba 2 orang yang kami tidak tahu, mereka mengaku mendengar hal yang sama dengan yang kami dengar, lama kami menunggu namun ternyata suara tersebut tidak terdengar lagi. Dengan berat hati kami memutuskan segera pulang, karena kampus akan segera ditutup.
Setelah kejadian malam itu, kami sering berkumpul untuk membicarakan hal-hal berbau misteri, mitos-mitos yang ada di masyarakat, bahkan tak jarang kami mendatangi lokasi-lokasi yang menjadi mitos bagi kebanyakan orang.
Suatu hari, kami berkumpul seperti biasa, dan ternyata salah satu dari kami menceritakan bahwa di kota kami terdapat misteri yang sangat nyata, sebuah rumah yang di huni oleh psikopat. Mendengar pernyataan teman kami, entah kenapa jantung kami berdebar kencang. Seperti ada yang membisikkan untuk mengetahui kebenaran dari kisah tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi rumah mitos tersebut.

Setelah sepakat menentukan hari, kami pun berangkat untuk mengujungi rumah yang katanya di huni oleh seorang psikopat, hanya saja, salah seorang dari kami tidak bisa hadir, kami berlima berangkat siang hari, namun karena beberapa kendala di jalan, kami sampai di rumah tersebut setelah matahari beristirahat.
Rumahnya kelihatannya biasa saja, agak luas, lantai dua, dan sepertinya lantai 1 digunakan sebagai toko sembako. Agak heran memang jika benar rumah ini di huni oleh psikopat mengapa harus di ada toko di rumah ini.
Kami berlima memasuki rumah tersebut, keanehan mulai kami rasakan, bagaimana mungkin rumah ini dibiarkan tidak terkunci? Apa mungkin tidak ada orang di rumah ini? Atau mungkin orangnya sedang pergi? Banyak pertanyaan di benak kami, tapi seperti biasa, otak kami bekerja jika ada misteri, maka untuk mengetahui kebenarannya kami harus masuk ke dalam.
Benar saja, rumah ini sunyi sekali, tokonya pun lengkap, aku rasa tidak ada orang yang ingin berbelanja disini, hawa disini sedikit agak mencekam. Kami mencari setiap sudut toko, berharap menemukan saklar listrik agar kami bisa melihat sekeliling dengan jelas, namun sayangnya, kami tidak menemukan dimana saklar listriknya berada.
Ditengah pencarian, kami menemukan tangga yang menuju lantai 2, gelap sekali tangganya, namun kami memutuskan untuk naik bersama-sama.
Kami sempat bercanda di tangga, ketika salah satu dari kami yang berbadan tambun ternyata tidak muat naik ke tangga. Kami meninggalkan teman kami untuk candaan, namun disinilah kami mulai menemukan keanehan, suara teman kami perlahan menghilang, kami bergegas memeriksa, dan yang tersisa hanya sebuah senter.

kami panik, kami mulai mencari namun tidak ada hasil, kami menelpon teman kami untuk dapat segera menyusul kami, selagi kami sibuk mencari, akhirnya teman kami datang. Kami melanjutkan pencarian, ke lantai 2, suasana di lantai 2 jauh lebih mencekam dibandingkan dengan lantai 1.
Banyak ruangan ditambah dengan suasana gelap semakin membuat kami makin bergidik, kami memutuskan untuk berpencar ke masing-masing ruangan, setelah beberapa menit aku menyadari bahwa keputusan untuk berpencar adalah keputusan yang salah, saat aku kembali ke ruang tengah, tidak ada siapapun disini.
Aku makin bergidik, aku memutuskan untuk segera keluar dari rumah ini. Namun, apa ini? Pintu terkunci, aku mencoba mencari ruangan untuk bersembunyi, aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai satu, awal nya aku pikir aku akan aman di ruangan ini.
Namun setelah aku duduk diam di ruangan ini, aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ruangan ini, ruangan ini dipenuhi dengan mayat teman-temanku, aku ingin berteriak namun kurasa tenaga dan keberanian ku sudah habis. Badan ku lemas seketika, dan disaat itu aku menyadari bahwa di depan ruangan ini terdapat sesosok bayangan, entah siapa, mungkin kah seseorang yg ingin menyelamatkan ku?? Atau justru sang Psikopat?? Aku semakin lemas, namun tidak ada yang bisa aku lakukan, daun pintu mulai bergerak, aku mulai menahan nafas, oh tidak, mungkinkah itu pisau?
Bukan, itu bukan pisau, itu katana yang aku temukan di lantai 2, lantas siapa yang membawanya?



Sosok itu pun muncul didepanku, ini kah sang psikopat? Dia mengayunkan katana nya, aku merasakan perih yang sangat amat di bagian dada, dan seketika semuanya gelap, aku menyadari bahwa tubuhku sedang di tarik oleh sang Psikopat dan di baringkan dengan mayat teman-temanku.
Read More
Home Baak Gunadarma Studentsite Gunadarma Situs Jurusan SI About
Copyright © 2014 All 'Bout SoftSkill | All Rights Reserved. Design By Blogger Templates